Senin, 20 Juli 2015

SAD IS? part 1




Assalamualaikum wr.wb
Pertama-tama gue ngucapin minal aidzin wal faizdin mohon maaf lahir dan batin
Selamat hari raya ya Guys,masiih adakah opor ayam kalian buat gue wkwk,selagi udah lebaran gue mau ngasih kalian THR nih… kalau gak suka NO WHAT WHAT :P typo bertebaran mohon dimaafkan mumpung lagi lebaran hahah.
***
Mungkin ini keputusan terkonyol yang pernah dibuatnya.
Tapi binar mata itu berbicara sebaliknya.
 Ini adalah awal baru untuknya.
***
Rio menatap Zahra dengan sinis. Ia mulai gerah dengan perlakuan-perlakuan manis Zahra terhadapnya yang semakin hari semakin membuatnya enek. Wanita ini memang cukup gigih mengejarnya,ia mendatangi Rio setidaknya tiga kali sehari kayak makan saja.
Bukan Cuma itu,Zahra juga sangat royal padanya,tak jarang ia membeli barang-barang mahal untuknya. Emangnya Rio itu cowok macam apa,dengan cara memberinya barang-barang mahal akan langsung luluh dengannya. Tidak akan!
“Gue mau balik” ujar Rio beranjak dari bangku depan kelasnya dan berjalan cepat ke gerbang sekolahnya. Zahra mengejarnya.
“Bareng gue yuk Yo? Kan rumah kita kan searah”
“Gue bawa mobil”
“Biarin aja,ntar gue nyuruh supir gue buat bawa mobil elo”
“Gue gak bisa menyerahkan barang-barang gue sama orang asing”
“Gue jamin 100% aman kok Yo” ucap Zahra ngeyel
Rio menghentikan langkahnya,ia berbalik menatap Zahra. Ia sangat ingin sekali melenyapkan wanita didepannya ini. Ia sudah cukup sabar mengahadapi sikap Zahra.
“Apa elo pikir elo pantas buat gue hah!”
Ditanya seperti itu Zahra langsung tergagap,tapi dasar wanita bermuka dua. Dengan pedenya ia menjawab pertanyaan Rio itu.
“Gue rasa gue cukup pantas buat elo. Gue kaya,gue cantik,gue cukup popular diantara anak-anak. Jadi,elo bakal beruntung banget dapat pacar secantik gue Rio. Cowok lain aja sampai mohon-mohon sama gue buat jadi pacar mereka. Tapi gue tolak mentah-mentah demi elo. Jadi elo mau kan Rio jadi pacar gue? Ayolah Rio ini kesempatan buat elo” ujarnya mulai menyombongkan diri. Rio berdecak, rasanya ingin muntah ia mendengar ucapan Zahra.
“Thanks! Silahkan ucapkan kata-kata elo itu buat cowok lain. So,jangan deketin gue lagi” ucapnya sinis.
Rio meneruskan langkahnya. Meninggalkan Zahra yang Cuma bisa bengong menatap punggungnya yang semakin menjauh. Zahra mengukir sejarah dirinya. Ditolak mentah-mentah dengan segala usahanya. Bahkan harga dirinya.
**
“Elo nolak Zahra bro?” Tanya Alvin sambil menyeruput es teh botolnya.
Rio hanya mengangguk pelan.
“Elo nolak cewek lagi Yo? Elo homo ya! Dih…” Tanya Alvin kesal
“Ngawur aja lo sipit! Gue nolak Zahra bukan berarti gue homo ya! Dia itu bukan tipe gue”
“Elo bego banget sih. Zahra kurang apa coba. Dia cantik primadona sekolah,kaya,popular sekolah”
“cewek kaya Zahra dalam 2 detik gue bakal bosen pacaran ama dia. Lagian,gue gak suka cewek  macam Zahra. Terlalu agresif sama cowok! Biarkan saja gue memilih cewek pilihan gue Vin.. elo gak perlu mengomentari hidup gue”
Alvin menghela napas beratnya. Ia sadar-sesadar sadarnya orang sadar (?), sahabatnya itu memang pantas untuk memilih sekehendak hatinya. Rio nyaris sempurna. Ia mewarisi darah Manado-Belanda dari kedua orang tuanya. Yang membuat wajahnya tak kalah dari pangeran-pangeran dikerajaan. Bukan Cuma fisiknya saja,Rio juga memiliki kecerdasan diatas rata-rata dan segudang bakat yang dimilikinya. Rio juga dinobatkan sebagai vokalis dalam group band dan juga kapten Tim Basket sekolahnya.
Tapi entah mengapa dalam urusan CINTA Rio tidak terlalu memikirkan. Ia terlalu sibuk berlatih band dan Basket daripada melirik cewek-cewek sekitarnya yang terlalu banyak menebar pesona kepadanya. Karena saking jarangnya bahkan tidak pernahnya ia membahas cewek, Alvin selalu mengejeknya. Telat puber?Homo? gak normal,dan lain sebagainya. Tapi Rio tidak peduli,ia sudah cukup puas dikagumi banyak wanita. Dan..Rio belum siap untuk bersama seseorang yang tak pasti mencintainya.
“Elo sempurna Rio? Ayolah lo sadar itu”
Rio mulai jengah dengan ocehan Alvin yang tiada hentinya membahas cewek-cewek dan cewek.
“Apakah gak bahasan yang lebih penting? Gue bisa menerima cewek,tapi gak harus sekarang kan?”
“Ya tapi setidaknya elo jangan bersikap terlalu sinis. Elo nggak takut karma?” Tanya Alvin.
Rio berdecak sinis
“Gue ganteng,gue pintar,gue mandiri.  Gak ada cewek yang mau nolak gue Vin” jawab Rio
“Oke. Elo bener Yo,Elo ganteng,pintar,mandiri. Tapi inget,hukum alam itu ada” ujar Alvin lalu meninggalkan sahabatnya yang sangat keras kepala itu.
***
Rio meregangkan tangannya setelah capek membuat lirik lagu barunya untuk bandnya itu. Ia melihat keluar. Hujan lebat,petir yang sesekali memekakkan telinga membuatnya urung untuk melanjutkan membuat lirik lagu barunya. Konsentrasinya sudah buyar. Ia terdiam,teringat perkataan Alvin siang tadi. Apakah benar hukum alam itu ada,apakah Rio nanti akan mengalaminya? Rio tau, ia sangat  sering membuat cewek sakit hati dengan perkataannya dan juga sikapnya itu. Tapi apa Rio salah, Rio juga begitu muak dengan ulah cewek-cewek itu yang bergitu agresif dengannya. Ah.. semoga saja ia tidak mengalami hukum alam itu yang sepertinya begitu menyeramkan baginya. Ia tak bisa membayangkan cowok sempurna seperti dirinya mengalami hukum alam itu. Bagaimana mungkin akan ada cewek yang menolaknya,secara Rio sangat ganteng,pintar,mandiri,dan berbakat. Ck.. mungkin hanya cewek buta yang nolak gue ujarnya dengan tenang.
Rio tersentak saat handphone-nya bordering nyaring. Ia mengangkatnya dengan kesal,mengganggu lamunannya saja.
“hallo” sapa Rio ogah-ogahan
“hallo Rio! Gue Zahra”
“Elo lagi” gerutu Rio dalam hati
“Iya ada apa?”
“Gue mau ngomong soal tadi siang”
“Sorry Ra,kayaknya itu bukan sesuatu yang penting dibahas” ujar Rio
“Elo harus dengerin! Penting!!” ujarnya ngeyel
Rio membiarkan saja wanita agresif itu bicara diseberang teleponnya.
“Gue tau kok Yo gue kecepetan bilang gue suka sama Elo.. mungkin elo kaget dengan ucapan gue yang berlangsung begitu aja. Gue minta maaf, mungkin seharusnya gue nunggu elo yang bilang kayak gitu sama gue.. gue juga sadar kok Yo? Mungkin elo juga ngerencanain sesuatu kan buat kejutan untuk gue?......”
Rio meletakkan handphone-nya,dan membiarkan Zahra ngoceh sendiri tentang fakta yang sangat absurd sekali. Ia melongok keluar,hujan lebat berganti gerimis. Matanya melihat jalanan yang sepi dengan aspal yang basah. Tiba-tiba saja Rio menajamkan matanya,ia melihat sesuatu yang begitu menarik perhatiannya. Sosok gadis yang tengah berjalan sendirian diantara butiran-butiran air gerimis itu. Wajahnya yang begitu cantik dengan pandangan mata yang terus menatap kedepan membuat rasa aneh yang muncul dibenak Rio. Baju gadis itu basah kuyup akibat hujan lebat tadi mungkin.
Rio tersentak saat melihat gadis itu jatuh diaspal yang berlubang kecil . Dengan sigap,Rio berlari keluar rumah dan mengahampiri gadis malang itu.
“Elo tidak apa-apa?” ucap Rio sambil membantu gadis itu berdiri, gadis itu hanya membalas pertanyaan Rio dengan gelengan kepala. Setelah bisa membantu gadis itu berdiri kembali,Rio menatap lekat wajah gadis itu. Cantik bak bidadari sangat melekat diwajah gadis itu. Dari sekian banyaknya gadis yang mengejar Rio. Gadis dihadapannya ini terlihat sangat berbeda,ia sangat cantik. Rio sebelumnya belum pernah melihat gadis secantik ini selain Mamanya.
“Apa elo  kedingingan?” Tanya Rio
Gadis itu menggeleng lagi,kemudian ia mengatupkan kedua telapak tangannya dan tersenyum kepada Rio sebagai tanda terima kasih. Rio terpesona dengan senyumnya. ia merasa tidak asing dengan senyum itu,senyum yang pernah ia lihat. Tapi kapan?dimana?Rio tidak tahu itu.
Gadis itu berbalik memunggungi Rio lalu melanjutkan perjalanannya.
“Tunggu! Elo mau kemana?” Tanya Rio
Gadis itu tak menghiraukan pertanyaan Rio ia terus saja berjalan meninggalkan Rio.
“Hey,nama kamu siapa,Gue Rio?” teriak Rio entah mengapa rasanya ingin sekali Rio berkenalan dengan gadis itu. Dan tepat saat Rio meneriakkan namanya langkah gadis itu terhenti.
“Rio…??” ucap gadis itu pelan sehingga tidak ada yang mendengarnya selain dirinya sendiri. Ia merasakan tubuhnya kembali bergetar. Apakah dia? Apakah dia? Batin gadis itu.
“Elo bisa kan jawab pertanyaan gue?”
***
Gadis itu berjalan dengan terburu-buru dijalan. Langkah kakinya yang biasa bergerak santai kini terpaksa harus lebih gesit melangkah. Ia menengok jam tangannya, pukul 6.50 astaga! 10 menit lagi jam sekolah akan berdentang dan Ia baru saja keluar dari halaman rumahnya,sedangkan perjalanan dari rumahnya menuju sekolah harus ditempuh selama 15 menit jika berjalan kaki. Dan sialnya lagi, ban sepedanya juga gembes. Dirumahnya kini hanya tertinggal sebuah mobil alphard yang berkandang manis dibagasinya. Yakali dia harus memakai mobil kesekolah. Astaga! Dia sungguh ceroboh, ia lupa memasang alarm kamar tidurnya sehingga ia bangun kesiangan. Belum lagi mamanya juga lupa membangunkannya.
“Omaigat 5 menit lagi bel, Ya Tuhan bantu aku bantu aku” ucapnya sambil mempercepat laju kakinya. Ia tersenyum sumringah saat sudah berada didepan gerbang sekolahnya.Namun, Saat ia tengah menyeberang,gadis cantik itu tidak terlalu memperhatikan kanan-kiri jalan. Ia sudah sangat tergesa-gesa. Belum lagi diseberang jalan ada sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi. Dan gadis itu sudah berada ditengah jalan.
TIN..TIN..TINN..TINN
Klakson mobil itu berbunyi sangat nyaring membuat gadis itu menoleh,senyumnya memudar seketika dan berubah menjadi wajah panik .ia berusaha menghindar tetapi kakinya sudah sangat berat untuk melangkah,seperti ada sesuatu  yang mengikatnya. Ia hanya pasrah dan memejamkan matanya.
BRAKK….
Dan tabrakan pun tak bisa dihindarkan,tubuh gadis itu terpental dan membentur aspal. Darah mulai bercucuran ditubuhnya. Sang pengendara mobil itu keluar,ia begitu terkejut dengan apa yang terjadi. Ia tak bisa melihat jelas wajah gadis itu,karena wajah gadis itu telah terpenuhi oleh darah.
“RIO!! APA YANG ELO LAKUIN”
“GUE..GUE GAK TAU..GUE GAK TAU” jawabnya parau
“RIO! PERGI SEKARANG! KALAU KITA GAK MAU TERKENA URUSAN DENGAN POLISI!”
“Tapi…”
“Cepat RIO sebelum ada orang yang melihat kita”
Ia mengangguk lalu masuk  kembali kedalam mobilnya. Dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.
sosok gadis itu kini tengah dirubung banyak orang. Ada juga yang sibuk memanggil polisi dan ambulance.
Ditempat lain,penabrak gadis itu terus saja melajukan mobilnya entah kemana bersama temannya itu. ia merasakan tangannya masih bergetar hebat,hanya keheningan yang tercipta dimobil itu. ia mengurungkan  membolos sekolah untuk menenangkan diri.
“udah Yo.. gak usah dipikirin. Kita udah kabur,elo gak bakal kena polisi kok”
“Gue takut Vin,gue takut kalau gadis itu meninggal. Gue..guee..”
“udah Yo,elo tenangin pikiran elo dulu,yah..”
Pemuda itu hanya mengangguk saja dan memilih diam.
Tiba-tiba mobilnya berhenti.
“Loh..kok mogok!”
BRAKKKKKK
Suara gebrakan keras membuat dua pemuda itu terkejut. Rio melongok keluar jendela mobil,ia terkejut saat mendapati gadis yang ditabraknya tadi berdiri tak jauh dari mobilnya. Gadis itu menatapnya tajam seakan dipenuhi oleh dendam yang membara. Rio tak bergeming ia tetap menatap gadis itu, tetapi wajah gadis itu masih tetutup darah. Tiba-tiba tubuh gadis itu melayang kearahnya siap untuk membunuhnya mngkin.
“AAAAAAAAAAAAAAA”
Rio terbangun dari tidurnya. Ia tak menyangka kejadian 2 tahun silam itu terus saja menghantuinya. Rio merasa sangat bersalah dengan gadis itu,ia telah merusak jiwa gadis itu. Dan Rio juga tidak tau apakah gadis itu masih hidup atau tidak.
“Astaga! Kenapa elo selalu ada dimimpi gue” ucapnya frustasi sambil mengacak-acak rambutnya. Ia mengambil Handphone-nya.
“Hallo Vin,gue mau ngomong sama elo! Gue kerumah elo sekarang”
Setelah selesai menguhubungi Alvin,Rio melempar handphonenya asal.
“Ya Tuhan… apa hukuman yang akan terjadi akibat aku menabrak gadis itu” gumamnya